Baca novel Tobijo Volume 2 Chapter 2 bahasa Indonesia terbaru di Novel Nook Haven. Novel Tobioriyou to Shiteiru Joshikousei o Tasuketara dou Naru no Ka bahasa Indonesia selalu update di Novel Nook Haven. Jangan lupa membaca update novel lainnya ya. Daftar koleksi novel Novel Nook Haven ada di menu Daftar Novel
Jika Chapter masih belum terbuka kalian harus login terlebih dahulu dan harus memiliki role "Member" untuk mengakses Series ini, Klik [LOGIN] untuk login terlebih dahulu atau bisa kalian akses di daftar menu
Chapter 2: Yuki, Kotori, dan Gadis di Sebelah

TL : Kazue Kurosaki
ED : Kazue Kurosaki
——————————————————
Keesokan harinya, setelah jam pelajaran selesai.
Seperti dua hari yang lalu, Yuki duduk di bangku depan pintu masuk sekolah, menunggu Kotori.
Sama seperti sebelumnya, dia membuka buku referensi, tapi kali ini suasana hatinya jauh lebih baik.
Alasannya?
(Hari ini aku libur setelah sekian lama!!)
Benar. Hari ini Yuki sengaja tidak mengambil jadwal kerja.
Biasanya, Yuki kerja setiap Sabtu dan Minggu, dan selalu belajar setiap hari. Jadi, hari ini benar-benar kesempatan yang langka buatnya.
Tentu saja, dia tetap akan belajar hari ini, tapi rencananya dia bakal menyelesaikannya lebih awal supaya bisa menghabiskan waktu bersama Kotori.
Yuki sempat berpikir untuk mengajak Kotori pergi ke suatu tempat, tapi Kotori lebih suka kegiatan dalam ruangan, jadi mereka sering menghabiskan waktu dengan bermain game bersama.
Mungkin terdengar seperti hari-hari biasa, tapi bagi Yuki yang selalu sibuk, waktu yang dia bisa habiskan bersama Kotori hanya saat sarapan, makan malam, dan sedikit waktu sebelum tidur. Totalnya mungkin cuma sekitar dua jam lebih sedikit?
Hari ini, dia bisa bersama Kotori selama sekitar enam jam sebelum tidur.
(Artinya aku bisa mendapatkan tiga kali lipat "dosis Kotori" dari biasanya, yang berarti kebahagiaan hidupku naik lebih dari sepuluh kali lipat!!)
Kalkulasi yang tidak masuk akal itu muncul di benak Yuki. Siapa sangka, otaknya yang menghasilkan kalkulasi aneh itu baru saja mendapatkan nilai sempurna dalam ujian matematika nasional.
"Oh, dia datang."
Saat Yuki sedang tenggelam dalam pikirannya, Kotori keluar dari pintu masuk sekolah, sama seperti dua hari yang lalu.
(Eh, siapa itu yang di sebelahnya...?)
Dia melihat seorang gadis yang tidak dikenal berdiri di samping Kotori.
Gadis itu memiliki penampilan yang sedikit mencolok dengan rambut yang diwarnai.
Gadis dengan penampilan mencolok itu melirik ke arah Yuki sekilas, lalu berkata, "Kalau gitu, aku pergi duluan ya," sambil melambaikan tangan dan pergi dari sana.
Kotori juga melambaikan tangan dan berkata, "Sampai jumpa," lalu berjalan menuju Yuki.
"Kamu capek habis kelas, Kotori?"
"Iya. Yuki-san juga pasti capek."
"Tadi siapa itu?"
"Itu teman sekelasku, Yoshida Sayuri."
"Oh, begitu."
Mungkin ini teman yang pernah Kotori sebutkan sebelumnya. Yuki membayangkan seseorang yang imut, jadi dia sedikit terkejut. Penampilan Yoshida yang mencolok dengan mata dan hidung yang tajam membuatnya terlihat agak sulit didekati.
Tapi saat Yuki melihat lagi ke arah Yoshida...
"... (Lambaian tangan yang heboh)"
Dari kejauhan, Yoshida masih melambaikan tangan ke arah Kotori.
"...Kotori, itu..."
"Iya? Ahaha, Yoshida-san benar-benar..."
Kotori tertawa kecil dan membalas lambaian tangan Yoshida dengan senyum.
Tiba-tiba, ekspresi Yoshida yang tadinya tegas berubah menjadi senyum manis dan lembut, dan dengan puas dia melompat-lompat keluar dari gerbang sekolah.
(Hmm, ya, dia memang imut juga sih.)
Tapi, perbedaan antara penampilan dan kepribadiannya terlalu besar, sampai-sampai Yuki hampir terjungkal.
Yuki merasa lega karena Yoshida bukanlah orang yang berbahaya atau berandal.
"...Yuk, Kotori, kita pulang. Aku libur hari ini, jadi kita bisa cepat pulang dan bersantai!!"
"Kamu kelihatan senang, Yuki-san."
"Iya, aku gak sabar buat habisin waktu seharian sama Kotori."
"Be-benar ya...?"
Yap, wajah Kotori merah lagi.
Memang, perasaan harus disampaikan secara langsung. Trik-trik halus itu gak ada gunanya kalau kamu bisa melempar straight ball 160 km/jam dengan kontrol yang bagus.
Namun saat itu...
Tiba-tiba, Yuki merasakan sesuatu yang lembut menggenggam tangannya.
Kotori yang menggenggam tangan Yuki dengan tangan kecilnya.
"Hari ini kita bisa terus begini, Yuki-san."
Katanya sambil tersenyum, wajahnya masih memerah.
"...Y-ya."
Senyum Kotori yang sangat imut dan kehangatan yang dirasakannya dari telapak tangan itu membuat Yuki merasa jantungnya berdebar keras hingga hampir terdengar oleh dirinya sendiri.
◇
"Hah?"
"Kenapa, Yuki-san?"
Yuki berjalan sambil menggenggam tangan Kotori, dan ketika mereka tiba di apartemen tempat tinggal mereka, Yuki melihat seorang gadis duduk di depan pintu sebelah kamar Kotori.
"Itu kan, gadis yang kemarin?"
Ya, dia adalah gadis yang melihat Yuki dan Kotori berpelukan di depan pintu masuk sekolah kemarin.
Gadis itu sedang menunduk, sibuk dengan ponselnya. Dia mengenakan seragam dari sekolah elit di dekat sana, yang kebetulan adalah sekolah lama Kotori sebelum dia pindah.
"Iya, benar. Dia baru pindah ke sini."
"Oh, begitu?"
"Iya. Aku sudah beberapa kali menyapanya. Pindahannya selesai waktu Yuki-san sedang kerja, sih."
"Oh, pantas aja."
Lagipula, Yuki biasanya pergi pagi-pagi sekali, entah hari kerja atau hari libur, dan pulang malam-malam. Jadi, wajar kalau dia belum pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya.
Tapi, yang lebih penting...
"Eh, anak itu gak bisa masuk rumah, kan?"
Meskipun musim panas, hari ini agak dingin. Yuki tidak mengerti kenapa gadis itu duduk di depan pintu rumahnya.
"Pengen nanya sih, tapi di zaman sekarang, ngomong sama gadis kecil di jalan kayak gini agak ngeri juga ya."
"Kamu ngomong gitu padahal kamu dulu nyuruh aku masuk ke rumahmu."
Kotori menggoda Yuki dengan nada jahil.
"Yah, kalau kamu ngomong gitu, aku gak bisa bantah."
Ngomong-ngomong, setelah insiden itu, Yuki baru tahu bahwa meskipun masih di bawah umur, mengajak anak lain yang juga di bawah umur masuk ke rumah tanpa izin orang tua bisa dianggap penculikan.
Ternyata, selama tujuannya untuk melindungi si anak dari bahaya fisik atau ancaman hidup, hal itu bisa dimaafkan. Dalam kasus Kotori yang penuh luka dan hampir melompat dari gedung, memang sulit untuk diputuskan. Tapi, tetap saja, Yuki merasa ngeri memikirkan betapa dekatnya dia dengan masalah hukum.
Sambil Yuki tenggelam dalam pikirannya, Kotori berjalan mendekati gadis itu, berjongkok, dan menyamakan tinggi pandangannya dengan si gadis.
"Namamu siapa?"
Gadis itu perlahan-lahan mengangkat wajahnya dari ponsel.
Ini adalah ketiga kalinya Yuki melihat gadis ini, dan satu kata yang bisa menggambarkannya adalah 'terlalu cantik.'
Meskipun wajahnya tanpa ekspresi, matanya sedikit tajam, dan bibirnya terkatup rapat, memberikan kesan kuat. Bulu matanya panjang, hidungnya tegas, dan rambut pendek pirangnya yang halus menyapu wajahnya. Ada tanda lahir di bawah mata kanannya yang membuatnya terlihat unik.
Setiap detail di wajahnya begitu sempurna, indah, dan menggemaskan sekaligus.
(Bagaimana ya bilangnya... dia kayak karakter di anime atau manga.)
Dia terlihat seperti putri dari dunia dongeng atau fantasi yang tersesat di dunia nyata, membawa aura yang hampir terasa tidak nyata.
Gadis itu menatap wajah Kotori dengan serius.
Kotori menanggapi dengan senyum lembut.
"......"
"......"
Sejenak keduanya terdiam.
Akhirnya, dengan suara pelan, gadis itu berkata,
"...Yui. Horii Yui."
Itulah namanya.
"Dari tadi kamu duduk di depan pintu. Ada apa?"
"...Kuncinya hilang."
~ "(Ini adalah Konten Terjemahan dari kazuxnovel.my.id dan novelnookhaven.blogspot.com)" ~
Seperti yang diduga, Yuki dan Kotori saling pandang.
Yuki bertanya,
"Sudah coba hubungi orang tua kamu?"
"......"
Horii Yui menggelengkan kepalanya pelan.
Dia memegang ponsel, jadi seharusnya dia bisa menghubungi orang tua, tapi entah kenapa dia tidak melakukannya.
Hal ini mengingatkan Yuki pada saat pertama kali dia bertemu dengan Kotori.
Pada saat itu, Yuki juga ingin menghubungi orang tua Kotori, tapi Kotori memohon padanya untuk tidak melakukannya. Yuki jadi berpikir, apakah gadis ini juga punya masalah yang serupa?
"Jangan khawatir... Jangan pikirkan aku..."
Horii Yui berkata dengan suara pelan, seolah-olah tidak ingin Yuki dan Kotori peduli padanya. Setelah itu, dia kembali fokus pada layar ponselnya, seakan-akan keberadaan mereka tidak berarti apa-apa baginya.
"Gimana bisa nggak khawatir?"
Yuki merasa khawatir melihat anak seusia Yui sendirian di luar seperti itu.
Namun, Yuki juga tahu kalau dia tidak bisa mengambil ponsel Yui dan memaksanya untuk menghubungi orang tuanya, atau menelepon polisi, karena itu pasti akan berlebihan.
"...Begitu ya."
Kotori hanya mengangguk kecil, lalu dengan tenang duduk di sebelah Yui.
"Kalau gitu, boleh nggak aku duduk di sini sebentar?"
Yui menatap Kotori dengan bingung.
"...Kenapa?"
"Karena aku pengen aja. Apa aku ganggu?"
"......"
Yui menggeleng pelan.
Melihat reaksi Yui, Kotori tersenyum.
"Terima kasih, Yui-san."
"...Panggil aja Yui."
"Oke. Aku Shimizu Kotori. Senang kenal kamu, Yui-chan."
"......"
Yui hanya mengangguk kecil dan kembali sibuk dengan ponselnya.
Yuki kemudian berbisik pada Kotori.
(Hei, Kotori. Kamu mau gimana selanjutnya?)
(Aku gak tahu. Tapi... Aku merasa kita harus ada di sini buat dia.)
Kotori menatap Yui sambil berkata pelan.
(Ya, kamu benar sih.)
Meski Yui bilang dia tidak perlu menghubungi siapa pun, dan Yuki tahu bahwa membawa Yui ke rumahnya bisa menimbulkan masalah dengan orang tua Yui, berada di dekatnya seperti yang Kotori sarankan tampaknya adalah pilihan yang baik.
Namun...
(...Liburan yang seharusnya bisa kuhabiskan berdua dengan Kotori...)
"Kenapa, Yuki-san?"
"Nggak, gak ada apa-apa."
Yuki menghela napas dan duduk di sebelah Kotori dengan suara "plop".
"...Gak apa-apa kok."
Yui berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
"Tapi, tetap aja. Kalau cuma ada dua gadis, tetap aja bahaya..."
Yuki berpikir untuk bersabar dan menahan rasa kecewanya karena waktu bersama Kotori sedikit berkurang.
◇
"Wah, udah malam aja, ya..."
Yuki menutup buku yang sedang dibacanya dan melirik jam di ponselnya sambil bergumam pelan.
Mereka bertiga sudah lama duduk di depan pintu masuk, dan tanpa disadari, suasana di sekitar mereka mulai gelap.
"......"
Yuki melirik ke samping, melihat Yui yang masih asyik bermain dengan ponselnya. Di sebelah Yui, Kotori duduk sambil membaca buku, sesekali melirik ke arah Yui dengan ekspresi perhatian.
(Mungkin dia emang suka anak-anak ya?) pikir Yuki.
"Hmm, udah mulai dingin nih," kata Yuki sambil berdiri. Walaupun masih ada sisa-sisa hangatnya musim panas, tapi malam sudah mulai terasa sejuk.
"Aku mau ambil jaket dulu. Jaket Kotori bisa buat Yui, kan?" tawar Yuki.
"Iya, boleh, terima kasih," jawab Kotori dengan senyum.
Tapi saat Yuki baru saja membuka pintu kamarnya, terdengar suara langkah kaki menaiki tangga apartemen. Suara hak sepatu yang menghantam tangga besi terdengar jelas.
~ "(Ini adalah Konten Terjemahan dari kazuxnovel.my.id dan novelnookhaven.blogspot.com)" ~
"Kenapa Anda duduk di situ, Nona Yui?" tanya seorang wanita yang baru muncul. Usianya mungkin pertengahan dua puluhan, dengan ekspresi wajah yang langsung menarik perhatian—matanya sedikit terangkat dan mulutnya terkatup rapat, seolah-olah sedang marah.
Namun, tubuhnya yang kecil, mungkin tidak lebih dari 150 cm, dan pakaian jas rapi yang dikenakannya, membuatnya terlihat lebih serius daripada menakutkan.
(Inikah ibunya Yui? Tapi kok dia manggil 'Nona'... siapa sebenarnya anak ini?) Yuki bertanya-tanya dalam hati.
Yui mengangkat wajahnya dari ponsel dan berkata singkat, "Kunci."
"Oh, jadi kuncinya hilang, ya? Seharusnya Anda menghubungi saya atau presiden," kata wanita itu dengan nada tegas.
"Gak apa-apa," jawab Yui santai.
"Hah, Anda memang selalu begitu, Nona Yui. Saya pegang kuncinya, jadi saya bukakan pintunya," kata wanita itu, seolah sudah terbiasa dengan sikap Yui.
Masalah tampaknya sudah teratasi. Yuki bertukar pandang dengan Kotori, dan mereka pun berdiri. Tampaknya Yui sudah didampingi oleh seseorang yang bertanggung jawab, jadi tugas mereka selesai.
"Siapa kalian berdua?" tanya wanita itu sambil menatap Yuki dan Kotori yang hendak masuk ke dalam kamar.
"Oh, kita tadi cuma ngobrol sama Yui-chan. Saya Yusuke Yuki, tinggal dua pintu di sebelah. Ini Shimizu Kotori, tetangganya Yui-chan," jawab Yuki memperkenalkan diri.
"Ah, maaf atas ketidaknyamanannya. Saya Hyoudo, sekretaris pribadi ibunya Yui. Saya terlambat memperkenalkan diri, tapi ini salam dari presiden kami. Mohon kerja samanya ke depan," kata wanita itu sambil membungkuk dalam-dalam.
Kotori juga membalas dengan sopan, meskipun terlihat agak canggung. Bagi seorang siswa SMA, perlakuan yang begitu formal dari orang dewasa terasa agak berlebihan.
"Baik, saya akan kembali ke kantor. Mohon maaf telah mengganggu," kata Hyoudo sambil mengeluarkan kunci dari tasnya, membuka pintu, menyerahkan kunci itu kepada Yui, dan kemudian membungkuk lagi sebelum pergi dengan langkah cepat menuruni tangga apartemen.
Setiap gerakannya cekatan dan tanpa sia-sia, memperlihatkan bahwa ia benar-benar orang yang serius dan profesional.
"Ya udah," kata Yui dengan singkat sebelum masuk ke apartemennya dan menutup pintu.
"......"
"......"
Yuki dan Kotori terdiam sejenak, lalu Kotori berkata dengan nada kagum, "Hyoudo-san itu rapi banget, ya..."
Kotori, yang biasanya santai dan lembut, terlihat sedikit terkesima oleh sikap tegas dan cekatan Hyoudo.
"Yui-chan ternyata anak dari seorang presiden perusahaan, ya. Tapi yang penting, dia udah bisa masuk rumah. Yuk, kita juga masuk, Kotori," kata Yuki sambil membuka pintu kamarnya.
"Ya udah, kita masuk aja," kata Kotori dengan senyum. Namun, sebelum Yuki masuk, Kotori berkata, "Oh, tunggu sebentar."
"Ada apa?" tanya Yuki.
"Kalau boleh, tolong tutup pintunya dulu dan tunggu sebentar sebelum masuk seperti biasa, ya?" pinta Kotori.
"Ya, boleh aja," jawab Yuki, meskipun agak bingung.
"Terima kasih. Aku selalu menantikan momen ini," kata Kotori dengan senyum yang manis.
"Momen apa?" tanya Yuki sambil menunggu di luar.
"Baiklah, silakan masuk sekarang," kata Kotori setelah beberapa saat.
Yuki membuka pintu dan masuk.
"Selamat datang di rumah, Yuki-san," kata Kotori dengan senyum ceria, menyambutnya di pintu masuk.
Suasana itu sangat familiar bagi Yuki. Lampu yang menyala, suara lembut Kotori, dan senyumannya yang manis, semua itu membuat hatinya terasa hangat.
"Rasanya senang banget bisa menyambut Yuki-san pulang seperti ini," kata Kotori, wajahnya sedikit memerah karena malu.
"Ah, iya," jawab Yuki sambil tersenyum lebar.
Meskipun hari liburnya tidak berjalan sesuai rencana, momen-momen kecil seperti ini bersama Kotori membuatnya merasa sangat bahagia.
~ "(Ini adalah Konten Terjemahan dari kazuxnovel.my.id dan novelnookhaven.blogspot.com)" ~
"Ya, aku pulang, Kotori," jawab Yuki, masuk ke rumah yang hangat dan penuh dengan kebahagiaan seperti biasanya.
◇
"Kemarin itu, Yui-chan imut banget ya," ucap Kotori sambil menyendokkan kari ke piringnya. Hari ini mereka makan malam bersama, seperti biasa. Makanannya adalah kari, salah satu masakan favorit Yuki dari Kotori. Kari ini kaya rasa, dengan sayuran yang sudah benar-benar larut dalam roux, memberikan rasa yang ringan tapi sangat mendalam.
"Hmm? Iya, kalau dipikir-pikir, dia memang imut," jawab Yuki sambil mengingat-ingat wajah Yui.
"Kamu suka anak-anak, Kotori?" tanya Yuki.
"Iya, aku suka. Yuki-san nggak suka anak kecil?"
"Hmm, bukan nggak suka sih... cuma kadang aku bingung aja gimana cara ngadepinnya," kata Yuki sambil menyendok kari lagi. Kari dan nasi bercampur di mulutnya, menyebarkan rasa manis pedas yang nikmat.
"Kayaknya, Yuki-san tinggal bersikap lembut aja, seperti ke aku," kata Kotori dengan senyum.
"Begitu ya," jawab Yuki, meski masih merasa agak ragu.
"Yah, kalau udah punya anak sendiri, mungkin bakal beda," tambah Yuki sambil tertawa kecil. Kotori menanggapi dengan tawa ringan.
"Fufu, kalau Yuki-san punya anak, aku rasa Yuki bakal jadi ayah yang penyayang," kata Kotori sambil tersenyum.
"Benarkah? Hmm... tapi kurasa," Yuki berpikir sejenak sebelum melanjutkan, "Aku pengen anakku nanti bisa bebas menjalani hidupnya."
"Oh, begitu," jawab Kotori, ekspresinya berubah sedikit serius. Yuki sudah pernah cerita tentang ayahnya, jadi mungkin Kotori bisa memahami maksudnya.
"Kalau kamu gimana, Kotori? Mau anakmu tumbuh jadi apa?" tanya Yuki.
"Aku? Hmm..." Kotori berpikir sejenak, lalu mengangkat tangannya, menyentuh area di bawah tulang selangkanya. Yuki tahu ada apa di sana—sebuah tanda di kulit Kotori, bukti dari masa lalunya.
"Aku cuma pengen anakku bahagia," jawab Kotori dengan suara lembut, penuh perasaan.
"Kebahagiaan, ya," gumam Yuki. Itu adalah harapan yang sederhana tapi sangat penting, terutama bagi Kotori, yang telah melalui begitu banyak hal dalam hidupnya.
"Iya. Bagi aku, itu sudah cukup," kata Kotori dengan mata yang penuh kelembutan.

Yuki memandang Kotori, merasakan sesuatu yang mirip dengan tekad tumbuh di dalam dirinya.
(Mungkin aku masih anak-anak yang belum bisa banyak, tapi...)
Dia merasa bahwa suatu hari nanti, dia ingin membuat Kotori dan anak-anaknya bahagia.
"Aku baru pertama kali ini merasa pengen cepat-cepat jadi dewasa," kata Yuki sambil merebahkan tubuhnya ke belakang, bersandar pada tempat tidur.
"Haha, kenapa tiba-tiba ngomong gitu?" tanya Kotori sambil tertawa kecil.
"Nggak, nggak apa-apa. Suatu hari nanti, aku bakal bilang alasannya," jawab Yuki, memutuskan untuk menyimpan kata-kata itu sampai waktunya tiba.
Kotori hanya mengerutkan kening, sedikit bingung, tapi tidak bertanya lebih lanjut.
Yuki tahu, suatu hari nanti, ketika dia sudah punya kekuatan yang cukup, dia akan menyampaikan kata-kata itu kepada Kotori.
Comment